Dhuafa Hujan deras di Siang hari tentulah membuat udara sedikit terasa dingin. Aku berteduh, ku liat seorang lelaki tua sangat lusuh duduk disamping sepeda sebagai teman akrabnya. Wajahnya lesu dan kaku sorot tatapan Matanya sayu dan kaku, seakan pandangan hampa tak nyata. Sambil memegang sebatang kretek ditangannya dia menghisapnya. sesekali dia menggeserkan badan menghindari percikan akan Hujan. Lelaki tua nampaknya seorang "pemulung' pencari Kardus bekas. Perlahan ku dekati dan kusapa : "Bapak baek-baek dan sehat Pak?'. "Ia... nda apa-apa nak'! : "jawabnya' dengan sedikit lesu dan apa adanya.... Banyak hal yang kutanyakan pada lelaki itu, aku sedikit haru akan perjalanan hidupnya, karna punya tanggung jawab besar terhadap keluarganya, terutama akan Istri dan empat orang anaknya dalam tanggungannya. Sungguh berat kayanya beban hidup yang dia jalani. Apalagi di jaman sekarang ini segala kebutuhan Sandang Pangan tidaklah mudah, semua serba mahal baginya,sebagai seorang pemulung penghasilan tidak menentu dan minim. Sulit tuk bisa layak seperti orang. Apakah jaman akan merobahnya ataukah dirinya yang mau merobahnya, sementara waktu terus berjalan dan tak pernah mau menunggu kita. "Kita sendiri tidak tau apa yang ada didepan kita nanti". "Moga kita bisa menghargai hidup'. Ini satu dari jutaan orang dalam perjuangan demi sebuah tanggung-jawab yang luhur jua Mulia. (Awan) <<kembali (home) BJRN123567